Johor Darul Ta’zim, Dari Tim Tak Berprestasi Sampai Jadi Klub Mewah Dan Disegani

Johor Darul Ta’zim dinilai merupakan salah satu klub baru,  padahal JDT didirikan sejak 1972.

Saat petama kali didirkan, JDT masih menggunakan nama Johor FC sebelum memasuki tahun 2013 mengganti namanya menjadi Johor Darul Ta’zim.

Nama Johor Darul Ta’zim mengingatkan pada ajang Piala AFC ditahun 2017/2018, yang mana klub asal Malaysia tersebut sempat dibantai 0-4 oleh Perjia Jakarta.

Bukan menjadi masalah yang sulit untuk supporternya melupakan momentum tersebut, karena mereka menilai bahwa kejayaan sudah didepan mata bagi tim berjulukan Southern Tigers itu.

Performa Johor FC dinilai kurang ciamik saat memulai meramaikan kompetisi persepakbolaan Negeri Jiran. Medioker dijadikan cap bagi mereka yang hanya mampu menghiasi papan tengah klasemen.

Di Johor, Johor FC dulunnya menggunakan nama Perbadanan Kemajuan Ekonomi Negeri Johor FC (PKENJ FC).

Mereka dianggap sebagai tim nomor dua, yang sebelumnya pada tahun 1955 sudah ada terlebih dahulu sebagai saudara tuanya, Johor FA.

Sebelum reformasi yang diambil kendali Putra Mahkota Johor, Tunku Ismail Idris, Johor FC dan Johor FA masih menunjukkan rivalitasnya.

Baca Juga:  Jadi Ladang Pembantaian Brasil vs Korea, Stadion 947 Resmi Dibongkar

Dimana akhirnya Johor FC mampu melewati Johor FA, akan tetapi masih bisa mendapatkan prestasi yang diharapkan di Malaysia.

Tunku Ismail Idris telah diangkat menjadi Presiden Persatuan Bolasepak Negeri Johor pada tahun 2012. Diketahui bahwa setiap bagian umum di Malaysia memilki Presiden atau ketua asosiasi federasi sepakbola Malaysia atau FAM.

Semenjak diangkatnya, Tunku Ismail Idris, berinisiatif untuk memerger kedua klub, Johor FA dan Johor FC.

Negeri Johor menjadikan Johor Darul Ta’zim sebuah lambang persatuan. Kedua kesebelasan saat itu bermain di dua kasta yang berbeda, dimana Johor FA yang mengganti namanya menjadi Johor Darul Ta’zim II bermain di Liga Primer Malaysia.

Pada tahun 2013,  JDT merupakan salah satu klub sepakbola yang secara resmi mewakili Negeri Johor.

Dengan kejutan yang berhasil merekrut pemain dari Benua Biru, namun hal tersebut masih belum memberikan hasil yang maksimal bagi JDT.

Dengan ambisi yang membara dari Tunku Ismail Idris yang ingin mengantarkan JDT sebagai tim terkuat di Malaysia sudah mulai nampak di musim kedua.

Baca Juga:  Australia Gugur, Peluang Jepang dan Korea Lolos Perempat Final Kecil

Pablo Aimar yang dipillih sebagai nahkoda berhasil memberikan gelar juara Liga Super Malaysia bagi JDT.

Masih belum puas, JDT masih ingin memberikan lebih banyak gelar dengan masih melakukan perkembangan dari segala sisi.

Seperti singa yang beringas, konsistensi yang ditunjukkan JDT menjadikan mereka klub sepak bola yang sangat disegani di Malaysia.

Roberto Carlos Mario Gomez, Pelatih asal Argentina yang sempat menangani JDT memberikan standar tersendiri untuk JDT. Dimana Harimau Selatan berhasil mengamankan gelar Juara Piala AFC pada tahun 2015.

Prestasi tersebut menjadikan JDT sebagai klub pertama bagi Malaysia yang berhasil merebut gelar juara di ajang bergengsi Asia.

Transfer Jordi Amat Jadi Perhatian

https://www.youtube.com/watch?v=5IW1EpmXV5g

Akhir-akhir ini memang menjadi sorotan publik Indonesia. Seperti keputusan calon pemain naturalisasi Indonesia Jordi Amat memilih klub tersebut.

Dalam pernyataan klarifikasi Jordi Amat menjelaskan bahwa alasan dirinya memilih JDT adalah fasilitas mewah yang ada di dalamnya.

Jordi Amat mengaku belum pernah merasakan fasilitas yang mewah kelas dunia di klub-klub sebelumnya.

Baca Juga:  Cedera Kepala, Elkan Baggott Diragukan Bisa Perkuat Timnas Indonesia

Sebagai klub yang dimiliki oleh kerajaan Johor, pastinya JDT salah satu klub mewah. Maka tidak mengeherankan jika JDT memiliki fasilitas mewah.

Fasilitas Mewah JDT

Salah satunya adalah stadion megah. Bernama Stadion Sultan Ibrahim di Iskandar Putri, Johor. Desain yang futuristic dan unik terlihat seperti bangunan stadion di Eropa.

Dalam informasi yang didapatkan, stadion ini memakan biaya sampai dengan 200 juta euro, atau sekitaran Rp3,4 triuliun rupiah.

Selain itu klub kaya raya ini juga memiliki pusat latihan untuk para pemain. Menghabiskan dana Rp660 miliar  training center ini memiliki kualitas sangat luar biasa. Stadion kecil dengan 8000 penonton dan lapangan indoor. Rumputnya juga sudah kelas internasional.

Yang terakhir adalah Gedung administrasi dua lantai sangat mewah. Maka tak heran jika klub milik sultan ini sering jadikan contoh dari beberapa klub berkembang di Asia Tenggara.

close