Aturan Aneh Piala Walikota Solo: Dilarang Pakai Pemain Asing Jika Lolos Final

  • Bagikan
Piala Walikota Solo mempunyai sejumlah aturan yang berisi memainkan pemain asing jika lolos partai final

Gelaran turnamen Pramusim yang bertajuk Piala Walikota Solo akan segera digelar. Sebanyak delapan klub ambil bagian di turnamen yang akan digelar di Solo ini.

Dari delapan klub tersebut empat diantaranya berasal dari liga 2 dan 4 lainnya berasal dari liga 1.
Empat klub dari Liga 1 yakni Persib, Arema, Bali, dan Bhayangkara FC. dan empat klub dari Liga 2 yaitu, Persis Solo, Rans Cilegon FC, PSG Pati, dan Dewa United.
Sekilas, tak ada yang aneh dari turnamen ini, namun bila dilihat dari bagan pembagian grup ada suatu yang terlihat nyeleneh.
Dari informasi yang kami terima, masing-masing masing-masing klub Liga 1 akan berduel hingga lolos sampai Partai final dan akan mempertemukan dengan tim dari liga 2 dipartai Final.
Bagan grup Piala Walikota Solo 
BACA JUGA:  PSSI Meminta Shin Tae Yong Juga Membawa Timnas Senior TC ke Korsel

Uniknya lagi, klub dari liga 1 yang lolos sampai partai final dilarang menggunakan pemain asingnya.
Pelatih Persib Bandung Robert Alberts mengaku heran dengan regulasi pemain di Piala Wali Kota Solo 2021, terutama pemain asing. Regulasi itu disampaikan dalam meeting yang digelar panitia dan klub pada Selasa (15/6/2021).

“Dikatakan bahwa kami bisa bermain dengan empat pemain asing, tapi ketika kami melaju ke final, tidak bisa bermain dengan pemain asing. Maka saya tertawa ketika mendengarnya,” kata Robert.

BACA JUGA:  Shin Tae yong Ungkap Laga Lawan Taiwan Merupakan Pertama Kali Pilih Pemain Sendiri

Hal ini tentu mengherankan. Sebab, ia tak pernah menemukan ada regulasi semacam itu dalam sebuah turnamen, apalagi turnamen pramusim.

Dapatkah Hadiah Uang Puluhan Juta Rupiah, Ayo Daftar Sekarang

Padahal, turnamen pramusim adalah ajang bagi klub untuk membentuk dan mengukur kemampuan tim, termasuk pemain asing. Namun, regulasi yang ada justru membuat misi itu terganjal.

“Bagaimana kamu bermain di turnamen, memulai dengan semua pemain, tetapi di final mereka tidak bisa bermain?” ungkapnya.

“Saya hanya tertawa, saya tidak tahu apa yang harus dikatakan, tapi orang-orang harus tahu apa yang terjadi,” jelas pria berpaspor Belanda tersebut.

Hal ini justru membuat sepakbola Indonesia semakin rumit. Sebab, sepakbola Indonesia kerap berada dalam ketidakpastian dan regulasi yang berubah-ubah.

BACA JUGA:  Sempat Ngotot Tolak Liga 1 Kembali Digelar, Madura United Ahirnya Berubah Pikiran

Bahkan, kondisi saat ini sangat sulit, terutama untuk membuat pemain asing bertahan atau mendatangkan pemain asing baru. Sebab, gaji yang diterima mereka belum ‘normal’.

Di tengah kondisi itu, saat pemain asing mengikuti turnamen bersama klub, mereka justru tak boleh main jika tim melaju ke final. Ini jadi hal yang cukup mengganjal. Apalagi, kompetisi juga belum pasti apakah bakal benar-benar digelar tepat waktu atau tidak.

“Tim mulai bersiap (mengarungi kompetisi dengan) memanggil pemain asingnya. Siapa yang mau datang ke Indonesia dengan kondisi hanya digaji 25 persen dan masih belum ada kabar resmi mengenai liga?” cetus mantan juru taktik Arema itu.

  • Bagikan